Filosofi Pancasila sebagai dasar pencapaian kesuksesan diri

Pancasila dirumuskan sebagai ideologi dan dasar negara Indonesia, ternyata mempunyai makna yang tersembunyi yang bisa diterapkan untuk mencapai kesuksesan hidup seseorang. Kenapa bisa..?

Disini kita akan ungkap ada rahasia dan makna filosofi apa yang terkandung dalam pancasila sehingga para pendiri negara kita ini menjadikan rumusan pancasila menjadi ideologi dan dasar negara.

Dan bagaimana jika filosufi dari kelima sila tersebut jika diaplikasikan dalam kehidupan seseorang, sehingga menjadi sebuah rumus untuk mencapai kesuksesan kita.

Namun sangat disayangkan, karena mereka para penguasa tak pernah menyadari dan mengerti makna hakiki dari pancasila ini, sehingga mereka dalam mengemban amanat rakyat justru mereka menghianati rakyat.

Dan menyedihkan lagi untuk saat ini ternyata banyak dari kaum muda Indonesia yang tidak hafal kelima sila tersebut, apalagi untuk mengerti makna hakiki dari pancasila ini.

Makna Filosofi Pancasila sebagai dasar Negara dan Dasar untuk mencapai kesuksesan hidup seseorang.

1. Ketuhanan yang maha Esa.

-Makna Ketuhanan bagi negara.

Sila pertama ini adalah sebenarnya dasar utama untuk terwujutnya sila yang lain.

Atau bahkan andaikan sebuah negara hanya mempunyai satu dasar negara yaitu ketuhanan saja dan negara memelihara serta mengedepankan nilai-nilai ketuhanan dengan sebenar-benarnya, maka sesungguhnya negara tak butuh dasar lain.

Karena secara garis besarnya semua aturan hidup perseorangan maupun bermasyarakat itu telah diatur tuhan tertuang dalam sebuah kitab suci.

Yang secara otomatis akan mendasari gerak manusia dalam pemerintahan maupun dalam masyarakat.

Para pembaca mungkin berkata.

Dalam kenyataanya tidak semua orang itu taat pada ajaran agamanya sendiri.

Memang benar..

Namun jika negara mendukung dengan sepenuhnya terselenggaranya kehidupan beragama bagi warga negaranya,seperti:

Pendidikan formal maupun non formal agama dan fasilitasnya, sebagai pembangunan mental spiritual Rakyat.
Berusaha menjadikan sebuah negara yang agamis, dan membangun kerukunan antar umat beragama.

maka akan lain kondisinya dari yang ada seperti sekarang ini.

Yaitu dimana nilai-nilai agama sudah mulai kabur, korupsi dimana-mana, kerusakan moral, narkotika dan sebagainya, malah menjadi masalah baru bagi negara.

Itu karena sebetulnya tanpa disadari negara sudah mulai geser dan lari dari dasar Ketuhanan yang maha Esa.

Dan terutama bagi pemerintah negara ini yang kini sudah tidak lagi konsentrasi pada pembangunan mental spiritual agama, dan pemerintah juga tidak lagi konsisten dengan dasar Pancasila dan UUD1945 dalam mejalankan pemerintahanya.

Makna Ketuhanan bagi manusia sebagai individu.

Sesungguhnya manusia adalah mahkluk yang penuh keterbatasan, yang dalam kegiatan hidupnya manusia harus mengakui betapa ia tak mampu dan menyerah dg laju pergerakan hukum alam.

Di sadari maupun tidak manusia harus mengakui bahwa ia adalah mahluk kecil yang sesungguhnya tak mempunyai kekuatan apa-apa.

Dari situ sebenarnya dia mau tidak mau harus mengakui kebesaaran tuhan, bahkan seorang Atheis sekalipun.

Seorang Atheis itu pada dasarnya bukan mereka tak mempercayai adanya tuhan, akan tetapi mereka enggan untuk memasuki wilayah dogma agama yang penuh dengan aturan, dikarenakan mereka dalam pengaruh faham materialism, atau kecintaan duniawinya adalah lebih mendominasi.

sehingga bisa dikatakan mereka adalah manusia yang tak berketuhanan dan mereka lebih mengabdi pada materi dan nafsu.

Bahkan seorang yang beragama sekalipun, apabial faham materialismenya mendominasi, maka dia akan menjadi pribadi yang cinta dunia.

Dan sesungguhnya dia akan berani meninggalkan nilai-nilai agamanya, dalam mewujutkan hasrat dunianya dia akan menghalalkan segala cara, seperti:

korupsi, menindas, memfitnah, atau mendapatkan kekuasaan dengan cara kebohongan bertopeng kebaikan/pencitraan, dan mereka itulah manusia-manusia yang tersesat dan biadab.

Karena sesungguhnya jika seseorang telah mempunyai unsur keimanan kepada tuhan(tauhid), maka secara tidak langsung mereka akan taat dan tunduk terhadap hukum-hukum tuhan.

Sehingga dalam menjalani hidupnya dia akan berusaha mencari keridloan tuhannya.

Dan sifat-sifat yang terbentuk dari ketaatanya kepada tuhan,seperti sifat kemanusiaan, keadilan dan dalam hidupnya dijalani dengan penuh adab dan tata krama.

Jika sebuah negara mempunyai dan berisi masyarakat yang seperti ini, maka negara itu akan dengan mudah menegakkan hukum dan undang-undangnya menuju negara yang adil, makmur dan berdaulat serta merdeka.

Sehingga sudah seharusnya negara bila ingin mewujudkan cita-citanya menuju masyarakat yang adil dan makmur, maka negara harus memulai lebih mengedepankan pembangunan moral, mental spiritual melaui perhatian peningkatan kualitas warga negaranya dalam bidang agama.

Dan untuk itu bisa dikatakan bahwa manusia takkan bisa bahagia secara hakiki sukses lahir batinnya tanpa faktor keimanan kepada tuhan dihatinya yang kuat.

Kenapa demikian,,?

Dalam proses menjalani kehidupanya manusia sering mengalami pasang surut mental, terlalu banyak persoalan yang menghadang, tak mengenal yang kaya atau yang miskin, semua kalangan, mereka semua mempunyai persoalan namun bersifat relatif.

Sehingga banyak dari manusia hanyut dalam persoalan itu, atau banyak dari mereka mengalami keputus asaan terhadap persoalan yang dihadapi.

Kecuali mereka yang mampu menyadari bahwa semua itu adalah dinamika kehidupan, ada susah ada senang, ada berhasil ada kegagalan dsb.

Untuk bisa dan mampu mengatasi berbagai persoalan yang menghadang dalam kehidupan, sehingga mampu berdiri tegak dan tidak hanyut dan bangkit dari segala persoalan itu tidaklah mudah.

Karena untuk bisa terhindar dari hanyaut dalam persoalan itu butuh jiwa yang stabil dan kuat.

Lalu siapa yang punya jiwa yang stabil dan kuat secara hakiki?

Mereka adalah manusia yang telah mampu mengenal siapa dirinya dan siapa tuhanya.
Karena manusia yang telah mengerti bahwa dirinya dijadikan oleh tuhan, Dia menyadari setiap apa yang ia terima adalah anugerah dari tuhan baik itu berupa nikmat atau ujian/persoalan, adalah suatu yang harus rela diterima dan disyukuri.

Dia selalu memandang setiap persoalan yang menghadangnya sebagai hal yang positif, dan selalu berusaha menjadikan dirinya sebagai seorang hamba yang sempurna berserah diri dan selalu mengakui kelemahanya dihadapan tuhan.

Dia mengerti kewajiban-kewajibanya terhadap tuhan dan terhadap sesama makhluk.

Dia yakin bahwa persoalan-persoalan itu akan menjadi suatu pelajaran peningkatan kwalitas dirinya sebagai hamba tuhan.

Dan sikap ini akan mensugesti dan menjadikan dirinya bisa hidup lepas dan merdeka seolah tak punya persoalan, karena pada hakikinya sesungguhnya tidak terjadi apa-apa.

Dengan kondisi demikian, seseorang akan menjadi pribadi yang lebih sabar, tabah, ikhlas, berjiwa besar, bersosial tinggi, Rendah hati, suka menolong dan berbagi, lebih mudah bergaul, dan dia akan lebih banyak dekat dan dicintai oleh sesama.

Bila sudah demikian maka lebih terbukalah jalan keluar akan persoalan-persoalanya.
Dari pada saat dia bergaul dengan penuh kecurigaan, dengki, sombong, bakhil, pembenci, kasar dan suka memaki yang kesemuanya jauh dari sifat-sifat manusia berketuhanan.

Yang jelas secara rasional akan menjauhkan dirinya dari dicintai oleh orang lain dan mungkin sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari oarang lain.

Orang yang lebih dekat kepada tuhan akan lebih mudah sukses daripada orang yang jauh dari tuhan, untuk meraih kebahagiaan dunianya secara hakiki.

Dan orang yang sukses dalam pembangunan mental spiritualnya akan lebih kuat dan tegar dalam menduduki posisi apapun.

Dalam arti dia bukan orang yang lemah dan labil, dia adalah sosok pemimpin yang bijaksana, bersih, dia bukan orang yang rentan terhadap gejolak-gejolak linkungan yang mengancam diri maupun kedudukanya.

Karena bagi dirinya setiap apa yang ia miliki adalah tak lain hanya sebuah amanat yang diberikan oleh tuhan dan dia hanya bertugas mengemban amanat itu dan dia menyadari bahwa amanat itupun sewaktu-waktu akan diambil oleh-Nya.

Namun semua itu butuh perjuangan dan proses dan dibutuhkan sebuah ilmu khusus yang tidak juga secara serta merta langsung ia dapatkan.

Walau ada jalan khusus yang lebih memudahkan, namun tetap butuh perjuangan yang tinggi.

2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
 
Secara singkat penjelasanya adalah,

sangatlah mustahil diwujudkan Kemanusiaan yang adil dan beradab jika masyarakatnya tak berdasarkan ketuhanan, atau tak mempunyai batasan aturan secara ruhani dalam menjalani hidupnya.

Karena jika tak adanya moral agama yang membatasi secara ruhani, akan melahirkan banyak persoalan baru dalam kehidupan.

Sehingga yang namanya korupsi, narkotika, sex bebas, dan kejahatan-kejahatan lainya akan marak terjadi dimasyarakat.

Penindasan, monopoli, kolusi, nepotisme juga kapitalisme yang cenderung akan menyengsarakan kaum yang lemah.

Kondisi seperti ini tak mungkin akan terwujud Kemanusiaan yang adil dan beradab.

3. Persatuan Indonesia

Jika dalam kehidupan bernegara maupun kehidupan perseorangan, tidak bisa mewujudkan sila ke-dua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab, dan juga filosofi sila pertama hidup dilandaskan pada keimanan kepada tuhan.

Maka, dalam menjalani hidup adalah tanpa aturan, sehungga tidak adanya rasa perikemanusiaan atau banyak terjadi penindasan, kesenjangan sosial, tidak meratanya pembangunan karena keterbatasan fasilitas akibat dikorupsi dsb, adalah sangat mustahil akan bisa mewujudkan rasa persatuan.

Yang mungkin bisa terjadi malah akan memicu disintegrasi bangsa, bila dalam sebuah negara.

Dan bila itu terjadi dalam keluarga karena tidak adanya ketuhanan, kemanusiaan, dan keadilan, maka hancurnya sebuah pembangunan keluarga sudah ada didepan pintu.

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.

Ini adalah azas Demokrasi terpimpin dan permusyawaratan, yang akan bisa dilakukan jika terwujudnya rasa persatuan.

Karena tak mungkin bisa bermusyawarah dan rakyat bisa dipimpin dengan baik jika tak adanya persatuan.

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat akan terwujut hanya jika ke-empat sila yang lain itu bisa terwujud.

Coba sekarang kita bayangkan yang tertjadi di negara kita ini..

Pemerintah mencoba untuk mewujudkan keadilan, namun mungkin hanya akan menjadi slogan dan kampanye dalam pemilu saja.

coba amati satu persatu filosofi dari kelima sila tadi, apakah kita atau negara kita sudah bisa mewujudkan secara benar atau masih hanya sekedar jadi wacana saja.

Suksesnya sebuah tujuan secara hakiki itu harus berasaskan ketuhanan, ini adalah faktor paling utama.

Sementara di indonesia Agama malah dijadikan Kendaraan untuk mencapai kekuasaan, tanpa harus saya jelaskan, semua sudah pada tahu.

Salah satu sebab yang menjadi persoalan bangsa ini, sehingga sulit mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat adalah, pemerintah dan rakyatnya sudah mulai melupakan sejarah.
Betapa bangsa ini adalah merupakan sebuah bangsa yang besar dan terhormat, namun pada kenyataanya seperti bangsa hamba sahaya.

Tanah kita tanah kaya, namun mengapa sebagian penduduknya malah meninggalkan negri ini menjadi TKI, dan sering mendapatkan perlakuan seperti budak.

Ada apa dengan negri ini..?

Atau haruskah tuhan merevolusi pemerintahan negara ini dengan caraNya,,? karena sudah seperti tak mungkin lagi kita akan menjadi rakyat sebuah negara kesatuan indonesia dengan pemerintahan yang bersih.

Mereka sudah lupa bahwa merebut dan mendirikan negara Indonesia ini adalah mengorbankan berjuta nyawa, hidup beralaskan penderitaan, berdendangkan tangisan lapar rakyat,, yang bisa mereka persembahkan adalah hanya demi kemerdekaan bangsa ini.

Namun mereka nodai dengan penghianatan-penghianatan terhadap kemuliaan perjuangan para leluhur.

Sejarah lahirnya Pancasila.

Berawal dari pidatonya Mohamad Yamin pada sidang BPUPK pada tanggal 28 mei 1945, ia menyampaikan sebuah rumusan , yaitu: Idiologi kebangsaan, idiologi kemanusiaan, idiologi ketuhanan, idiologi kerakyatan dan idiologi kesejahteraan.

Kemudian pada tanggal 1juni 1945 Ir.Soekarno mencetuskan dasar-dasar kebangsaan, internationalisme, kesejahteraan, ketuhanan dan mufakat sebagai dasar negara.

Dari Filosofi Pancasila menurut soekarno inilah yang ditanggapi dan kemudian terbentuklah panitia sembilan yang terdiri dari: Soekarno, Muhammad Hatta, Marami Abikoesno, Abdul Kahar, Agus Salim, Ahmad Soebarjo, Mohammad Yamin dan Wachid Hasyim.

Panitia ini bertugas merumuskan ulang Dasar negara dari usulan Soekarno. Dan dari hasil kerja panitia ini lahirlah Piagam Jakarta, yang isinya:

  1. Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Persatuan Indonesia.
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
  5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Yang kemudian melewati berbagai proses penyesuaian, sila pertama dirubah menjadi Ketuhanan yang maha Esa saja dan seperti yang sekarang ini, karena mempertimbangkan bahwa rakyat indonesia terdiri dari berbagai macam pemeluk agama.

Dari situ kita bisa melihat bahwa lahirnya Pancasila sebagai dasar negara ini adalah sebuah proses penuh dengan kebijaksanaan dan toleransi.

Yang ternyata para cendikia dan Ulama pada masa itu merumuskan dengan selalu tidak meninggalkan dasar ketuhanan, karena disadari maupun tidak unsur inilah yang menjadi faktor utama dari kemerdekaan indonesia.

Seperti yang disebutkan dalam pembukaan UUD 1945, yang berbunyi ” Atas berkat Rahmat Alloh yang maha kuasa , dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas…

Hal semacam ini bukanlah sebuah proses yang mudah, karena situasi yang serba sangat terbatas, yaitu dalam masa perjuangan melawan penjajah, dan kehidupan yang serba memprihatinkan.

Dan karena mereka adalah orang-orang yang lahir dan dibesarkan dalam penjajahan itu, sehingga mereka mempunyai kekuatan mental dan secara batiniah lebih mempunyai kekuatan spiritual dan kejernihan hati sehingga lebih dekat dengan tuhan Yang maha Esa..

Hubungan Pancasila dengan Agama.

Di tinjau dari sejarahnya Pancasila ini lahir dari buah pemikiran para Ulama dan para pejuang, yang berketuhanan. Dan sudah barang tentu para Perumusnya sangat mempertimbangkan sisi agama. Karena mereka dibesarkan dalam lingkungan penuh keprihatinan dan sakral.

Pancasila bukanlah dasar sebuah agama, namun prinsip-prinsip agama menjadi landasan lahirnya Pancasila, terutama agama islam yang menjadi mayoritas agama para perumusnya pada masa itu.

Namun banyak fenomena muncul di era baru-baru ini, yaitu tentang ada sekelompok orang mengharamkan dan menolak keras Pancasila sebagai dasar negara, dengan alasan bahwa menjadikan pancasila sebagai dasar bernegara adalah perbuatan Syirik.

Sehingga lahirlah aliran-aliran radikal tersembunyi dalam kehidupan negara ini.

Pemikiran seperti itu muncul sebenarnaya betapa mereka tidak mengerti yang sesungguhnya tentang Hakikat Pancasila sebagai dasar negara.

Karena Pancasila bukan sebagai pedoman hidup, karena pedoman hidup manusia itu sudah ditentukan oleh tuhan berupa kitab-kitab suci, seperti misalnya kitab Al qur’an bagi agama Islam.( elm )

Sumber :Puspo Tajem

The post Filosofi Pancasila sebagai dasar pencapaian kesuksesan diri appeared first on Halo Dunia.



from Halo Dunia http://ift.tt/2eSH17G
via IFTTT

0 comments: